Indonesia Tahun 2015 umat Islam merayakan hari raya idul adha atau hari raya idul qurban dua kali. Ada yang merayakan tanggal 23 September 2015. Dan ada yang tanggal 24 September 2015. Bukan perbedaan perayaan yang ditonjolkan, tetapi semangat berkorban sebagai kebersamaan sosial yang di utamakan. Dari sejarah Islam dapat diketahui periode qurban dibagi menjadi tiga periode yaitu : periode Nabi Adam AS, periode Nabi Ibrahim AS, dan periode Nabi Muhammad, SAW.
Pada periode Nabi Adam qurban dilaksanakan oleh putra-putranya, yaitu : Qabil dan Habil. Saat itu sudah mulai ada perintah, siapa yang memiliki harta banyak maka sebagian hartanya dikeluarkan untuk qurban. Habil mengeluarkan qurban yang terbaik-ternak yang gemuk dan sehat- sedangkan Qabil melakukan sebaliknya. Sebagaimana yang termuat dalam al-quran : “Ceritakan kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil), Ia berkata, “aku pasti membunuhmu! Berkata Habil” sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang
yang bertakwa”. (QS. Al-Maidah :27).
Periode kedua adalah pada masa Nabi Ibrahim AS, suatu peristiwa yang sangat monumental dan dramatis. Seorang ayah Ibrahim, dalam kurun waktu yang sangat lama belum memiliki keturunan, pada usia 100 tahun dengan isterinya Hajar , baru dikaruniai seorang anak Ismail. Putra tunggal semata wayang yang dimilikinya ternyata diperintahkan Allah untuk disembelih.
Ujian Allah atas ketaatan Ibrahim dan Ismail tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut; Allah memerintahkan kepada Ibrahim untuk menyembelih Ismail putra yang amat dicintainya.
Sehari sesudah mendapatkan mimpi itu, nabi Ibrahim merenungkan mimpinya, apakah benar-benar datang dari Allah atau bukan. Karenanya hari itu disebut dengan Yaumut Tarwiyah, hari perenungan dan pemikiran. Pada hari kedua, barulah ia yakin bahwa mimpi itu betul-betul dari Allah, sehingga hari itu disebut Yaumul Arafah, hari mendapatkan pengetahuan dengan sadar.
Dan akhirnya pada hari ketiga, nabi Ibrahim mengambil keputusan dengan keyakinan bulat, yang hari itu dikenal sebagai Yaumun Nahr, yaitu hari pelaksanaan penyembelihan. Karena keyakinan dan ketaatan terhadap Allah SWT, Ibrahim bersedia, rela menyembelih dan mengorbankan nyawa anaknya Ismail AS yang sangat disayangi dan dicintainya. Demikian pula yang dilakukan sang anak Ismail AS karena keyakinan dan ketaatannya kepada Allah SWT bersedia, bahkan rela dengan sepenuh hati untuk disembelih oleh ayahnya sendiri karena semata-mata memenuhi perintah Allah SWT.
Periode ke tiga pada masa Nabi Muhammad SAW., perintah qurban ditegaskan dalam al-quran.” Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus”.( QS. Al-Kautsar : 1-3) Demikian pula dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Ibnu Majah : ‘Para sahabat bertanya kepada Rasulullah: apakah qurban itu? Nabi menjawab: itulah sunah yang dijalankan oleh bapak kalian Ibrahim. Mereka bertanya lagi: apa keuntungan qurban itu bagi kita? Nabi menjawab: pada tiap-tiap helai bulunya dihitung menjadi satu kebajikan’. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Islam bukanlah sebuah agama yang hanya mengutamakan kepentingan individual, tetapi juga mengutamakan kepentingan jama’ah (sosial), saling tolong menolong, saling meringankan beban, saling berempati bahkan saling menutupi aib (kekurangan) sangat ditekankan. Jika dicermati fenomena keberagamaan umat Islam saat ini, cenderung terbangunnya kesalehan individual dan belum terbangunnya secara maksimal kesalehan sosial. Seorang melakukan ibadah shalat, tetapi tidak mampu mengimplementasikan dalam kehidupan keseharian. Rajin melakukan ibadah puasa tetapi tidak mampu memaknai ibadah puasa dalam kehidupan sosial. Zakat, infak dan shadaqah cenderung belum dilakukan secara maksimal. Berlomba-lomba melakukan ibadah haji dan umrah, bahkan dilakukan berulang-ulang. Apakah tidak akan lebih bermanfaat jika yang telah melakukan ibadah haji dan umrah berulang-ulang mengalokasikan dana tersebut untuk kepentingan sosial, menyantuni fakim miskin, anak yatim, untuk pembangunan rumah ibadah dan lain-lain.
Pada peristiwa qurban yang dilakukan oleh nabi Ibrahim dan Ismail sepatutnya dijadikan i’tibar, suatu pelajaran dan teladan penting. Yaitu:Pertama, seorang anak Ismail adalah harta yang paling berharga dan amat dicintai oleh Ibrahim, namun dengan keikhlasan yang total, Ibrahim rela mengorbankannya. Ini adalah sebuah pengabdian yang amat sempurna dan prestasi keimanan yang supergemilang. Namun dalam konteks kekinian, fenomena ‘berkorban’ amat mudah dijumpai menjelang perhelatan politik seperti pemilu, pilpres, pilkada dan sebagainya. Hal tersebut bisa disaksikan, bahwa banyak orang dengan mudah menggelontorkan uang jutaan bahkan miliaran rupiah hanya untuk kepentingan politiknya. Tetapi sebaliknya, betapa sulitnya ditemukan orang yang bersedia melakukan hal yang serupa untuk kepentingan di jalan Allah, kepentingan umat dan kepentingan publik.
Kejadian tersebut yang membedakan antara kisah Ibrahim dan manusia sekarang. Pengorbanan Ibrahim merupakan wujud dari totalitas pengabdian, sedangkan manusia sekarang cenderung berpengabdian semu dan sarat pamrih.
Kedua, urgensi dialog antara Ibrahim dan Ismail sebagai fondasi tegaknya demokrasi, egalitarianisme dan humanisme. Teladan ini bisa dipetik dari peristiwa “tawar menawar” antara ibrahim dan Ismail sebelum melakukan ekekusi. Sebagaimana di ketahui bahwa, penyembelihan Ismail’ adalah titah Allah SWT., namun tidak serta merta Ibrahim memaksakan titah itu walaupun kepada anaknya, tetapi terjadinya dialog.
Ketiga, penyembelihan hewan qurban hakikatnya adalah perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih egoisme, keserakahan, dan nafsu kebinatangan orang yang hanya akan melahirkan kesenjangan dan pada akhirnya berujung pada disharmoni dan bahkan disintegrasi sosial. Sementara pendistribusian daging qurban menyiratkan pesan pentingnya kepekaan dan solidaritas sosial. Seolah-olah Allah berkata, jika ingin dekat dengan-Ku, maka dekatilah dan tolonglah saudara-saudara kalian yang serba kekurangan.
Secara subtansial, tujuan qurban bukan hanya sekedar menyembelih binatang. Pada hakikatnya ibadah qurban menyiratkan pesan penting untuk membantu kesulitan orang lain. Pesan subtansial dari sebuah ritual ini yang semestinya kita teguhkan, bukan prosesi ritual itu sendiri yang diberi porsi perhatian berlebih. Ibadah qurban bisa jadikan sebagai momentum untuk melakukan refleksi terhadap peristiwa yang sarat makna yang dialami oleh nabi Ibrahim dan Ismail. Dasar pengorbanan adalah sebagai keniscayaan hidup bagi orang-orang yang beriman.
Jika pengorbanan telah melekat begitu kuat dalam tabiat kehidupan orang, maka begitulah pengorbanan menjadi wajah abadi bagi iman. Sebab geliat iman hanya akan terlihat pada sebanyak apa orang berkorban, pada sebanyak apa orang memberi, pada sebanyak apa orang menangis; dan puncak dari segalanya adalah saat dimana ketika menyerahkan harta dan jiwa sebagai persembahan total kepada Allah swt. Maka bertanyalah kepada diri sendiri; sudah berapa banyak yang sudah kita berikan? Sudah berapa banyak kita meneteskan air mata?, Sudah berapa banyak pengorbanan kita dalam berjuang untuk agama Allah? Dan hanya ada satu hal yang kelak akan memutus siklus pengorbanan yaitu kematian! Hanya kematianlah yang akan membebaskan orang-orang yang beriman dari pengorbanan.








