Diskusi Antara Agama di RRI Bandar Lampung: Mendorong Moderasi

  • Bagikan

Bandar Lampung – RRI Pro 1 Bandar Lampung melalui program Mozaik Indonesia kembali menghadirkan ruang dialog inspiratif bertajuk “Diskusi Antar Agama: Mendorong Moderasi” pada Sabtu, 16 Agustus 2025, pukul 15.00 WIB. Acara ini menghadirkan Dr. Abdul Mujib, M.Pd.I, Kepala Pusat Studi Moderasi Beragama dan Sosial Budaya UIN Jurai Siwo Lampung, sebagai narasumber utama, dengan dipandu oleh host Tiara Wahyuni.

Dalam sesi dialog tersebut, Dr. Abdul Mujib menekankan bahwa moderasi beragama merupakan kebutuhan mendesak di tengah kompleksitas kehidupan bangsa Indonesia yang multikultural. Menurutnya, tanpa moderasi, keberagaman justru dapat menjadi pemicu konflik yang merugikan masyarakat.

“Moderasi beragama bukan sekadar jargon akademik, tetapi praktik keseharian yang harus diwujudkan oleh setiap warga negara. Indonesia berdiri di atas keberagaman, sehingga yang dibutuhkan bukan saling menegasikan, melainkan membangun jalan tengah yang adil dan seimbang,” ungkapnya.

Urgensi Moderasi Beragama

Dr. Abdul Mujib menjelaskan, urgensi moderasi beragama setidaknya mencakup beberapa aspek penting. Pertama, menjaga kerukunan antarumat. Tanpa sikap moderat, perbedaan tafsir agama dan keyakinan dapat memicu ketegangan sosial. Kedua, memperkuat identitas kebangsaan. Indonesia dengan Pancasila membutuhkan warganya untuk tetap menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok.

Ketiga, mencegah berkembangnya paham ekstremisme dan radikalisme. Dalam era digital, arus informasi yang tak terbendung membuat masyarakat rentan terhadap doktrin yang menyesatkan. Moderasi beragama dapat menjadi benteng moral yang kokoh. Keempat, mewujudkan harmoni sosial. Kehidupan damai, rukun, dan saling menghargai tidak mungkin terbangun tanpa sikap moderat dalam beragama.

“Moderasi adalah jembatan. Dengan itu, umat beragama bisa menyeberangi perbedaan menuju kesepahaman. Tanpa jembatan, kita hanya akan melihat jurang pemisah,” tambah Abdul Mujib dalam sesi tanya jawab.

Lampung Sebagai Miniatur Indonesia

Lampung dipandang sebagai salah satu wilayah yang cukup representatif menggambarkan Indonesia dalam skala kecil. Provinsi ini dihuni oleh beragam suku, agama, dan budaya. Migrasi besar-besaran sejak era transmigrasi menjadikan Lampung kaya akan pluralitas.

Dalam konteks itu, menurut Dr. Abdul Mujib, moderasi beragama menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar. “Lampung adalah laboratorium sosial. Di sini, kita bisa belajar bagaimana perbedaan bisa dirawat. Jika Lampung berhasil menjaga harmoni, maka itu menjadi contoh baik bagi daerah lain,” jelasnya.

Peran RRI sebagai Media Publik

Acara yang disiarkan langsung melalui gelombang 90.9 FM ini sekaligus menegaskan peran RRI sebagai media publik yang netral dan edukatif. Dengan mengangkat tema seputar keberagaman dan toleransi, RRI memberikan kontribusi nyata dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya hidup rukun di tengah perbedaan.

Host acara, Tiara Wahyuni, menyatakan bahwa Mozaik Indonesia memang dirancang sebagai ruang diskusi yang mempertemukan berbagai perspektif untuk membangun kesadaran bersama. “Kami ingin menghadirkan wacana positif, bukan hanya hiburan. Diskusi seperti ini bisa menjadi bekal masyarakat untuk hidup berdampingan secara damai,” ujarnya.

Analisis: Menjaga Kebinekaan di Era Tantangan Global

Fenomena intoleransi dan radikalisme belakangan ini kerap muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari ujaran kebencian di media sosial hingga konflik horizontal di masyarakat. Situasi ini menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan hanya wacana, tetapi sebuah urgensi nasional.

Sebagai negara dengan lebih dari 17 ribu pulau dan ratusan etnis serta agama, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga persatuan. Moderasi beragama hadir sebagai strategi kebudayaan sekaligus strategi kebangsaan. Tidak hanya mencegah konflik, tetapi juga membangun fondasi kuat bagi kemajuan bangsa.

Dalam perspektif pengembangan masyarakat, moderasi beragama juga sejalan dengan pembangunan sosial yang berkeadilan. Dengan adanya sikap moderat, masyarakat dapat lebih fokus pada pembangunan ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan, tanpa terpecah oleh konflik identitas.

Diskusi yang diinisiasi RRI Pro 1 Bandar Lampung ini tidak hanya membuka wawasan, tetapi juga mengingatkan masyarakat akan pentingnya menginternalisasi nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari. Dr. Abdul Mujib menegaskan bahwa moderasi beragama adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau akademisi.

“Setiap kita adalah duta moderasi. Jika kita bisa menahan diri, menghormati perbedaan, dan mencari titik temu, maka masa depan Indonesia akan semakin kokoh,” pungkasnya.

Dengan mengusung tema moderasi, acara ini diharapkan mampu menginspirasi masyarakat Lampung dan Indonesia pada umumnya, untuk terus merawat persaudaraan, membangun toleransi, serta mewujudkan Indonesia yang damai dalam keberagaman.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *